PARTISIPASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBANGUNAN
Partisipasi pendidikan islam dalam proses Pembangunan Nasional adalah merupakan sesuatu yang sangat signifikan bagi terbentuknya kader kader bangsa yang lebih berkwalitas. Dalam pembentukan kader-kader bangsa tersebut harus disertai pemahaman Spiritual yang utuh agar tidak pincang dalam bersosialisasi dengan masyarakat yang homogen, dalam arti dapat bersosial dengan seimbang antara kebutuhan duniawi dan ukhrowinya ataupun sebaliknya.
Arah pelaksanaan Pendidikan adalah dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya, dimana tidak hanya mengejar kebahagiaan lahiriyah (sandang, papan dan pangan dll) atau hanya batiniyah saja akan tetapi keselarasan keseimbangan atau keserasian antara keduanya. Pasti tidak mudah untuk mewujudkan itu semua, sebab pada dasarnya pendidikan islam ini adalah proses Pembentukan Watak, Sikap Dan Perilaku Yang Islami yang meliputi Iman (Aqidah), Islam (syari’ah), dan Ihsan (Akhlaq, Etika dan Tasawuf). Membangun manusia yang ber-Aqidah, ber-Syari’ah dan ber-Akhlaq ini bukan hal yang mudah semudah membalikkan tangan, bahkan jika menginginkan mahir dalam satu pengetahuan tertentu, bisa jadi dapat di tempuh dalam jangka waktu tertentu misalnya : dua atau tiga bulan secara khusus tetapi untuk penanaman Iman (Aqidah), Islam (syari’ah), dan Ihsan (Akhlaq, Etika apalagi Tasawuf) belum tentu dapat di lalui dalam waktu tersebut. Sehingga tugas Insan yang berkecimpung dalam Pendidikan Islam tidak hanya bertugas sebagai pen-transfer knowledge akan tetapi sifatnya Install knowledge in person – yaitu menanamkan pengetahuan tersebut untuk menjadi karakter masing2 pribadi atau menjadi kepribadian yang bermoral mahmudah dan berakhir dengan khusnul khotimah.
Rabu, 29 April 2020
Senin, 13 April 2020
“5 KUNCI SUKSES MUSLIM - DUNIA SAMPAI AKHIRAT”
Berbicara
tentang akhirat maka selayaknya kita membicarakan hal abstrak, dimana tidak
semua person mudah untuk menyambung konteks ini karena kondisi riil manusia
yang kongkrit sehingga untuk membicarakan hal ini perlu modal dasar yang sama
terlebih dahulu, minimal adalah keyakinan atau iman.
Aqidah
merupakan aspek fundamental dalam islam yang berhubungan erat dengan keyakinan,
kepercayaan atau keimanan terhadap hal yang ghoib. Jadi aqidah Islam bermakna
keyakinan yang kuat terhadap hal – hal yang ghoib seperti meyakini adanya Alloh
SWT, RosulNYA, MalaikatNYA, adanya Hari Akhir maupun tentang ta’dir atau qodho
dan qodarnya.
Setiap
pemeluk Agama pasti memiliki aqidah tertentu yaitu keyakinan kepada agamanya,
namun aqidah yang benar hanyalah aqidah islam yang bersumber dari Dzat yang
menguasai segala galanya atas Alam Semesta ini yaitu Alloh Azza Wajjala.
Sehingga tidak ada bedanya Aqidah yang di bawa para Nabi dari masa ke masa. Bahkan
karena pentingnya aqidah, ibarat sebuah bangunan – aqidah adalah pondasi yang
mempengaruhi kokoh tidaknya sebuah bangunan. Apabila pondasi kuat maka setinggi
apapun bangunan tetaplah berdiri dengan kokoh sebaliknya apabila pondasinya
lemah – ringkih maka ringkih pula bangunannya. Untuk melakukan ibadah (yang kaitannya dengan
ilmu IBADAH atau FIQIH) apapun di muka bumi ini, contohnya mengerjakan sholat,
berpuasa, membayar zakat apalagi bershodaqoh dapat dengan mudah dilaksanakan
apabila hati ini yakin atau minimal percaya adanya Alloh SWT namun apabila
tidak yakin bahkan tidak percaya adanya Alloh SWT maka mana mungkin manusia akan melaksanakan sholat, puasa,
bayar zakat – shodaqoh maupun ibadah – ibadah yang lain dengan mudahnya. Senyum yang tulus adalah salah satu perbuatan
ringan namun tetap terhitung sebagai ibadah bahkan dapat menghapus dosa
seseorang atas izin Alloh SWT akan tetapi tidak semua orang mampu melaksanakan
ini dalam kehidupan sehari hari. Jika
seseorang tidak ada keyakinan atas adanya Alloh mana mungkin dengan mudah dapat
melakukan sholat, shodaqoh maupun ritual ibadah yang lain. Bahkan tidak akan
sempurna ibadah yang dilakukan seseorang yang tidak yakin atau percaya adanya
Alloh SWT. Inilah salah satu sebabnya mengapa Aqidah begitu mendasar dalam
pelaksanaan ibadah seseorang. QS. An Nisa’ ayat 80 :
Artinya : “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu,
Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari
ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”
Pada
Ayat ini diterangkan bahwa siapa yang
mentaati Rosul maka sebenarnya dia telah mentaati Alloh SWT. Taat disini
berarti melaksanakan semua ajaran yang di bawa oleh Rasulnya (setiap Rosul
memiliki ummat masing-masing) seperti kita adalah ummat Nabi Muhammad SAW. Dan
sesungguhnya seorang Rosul tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang di
lakukan oleh masing masing individu dan tidak menjamin mereka tidak melakukan
kesalahan.
Karena itu Aqidah dapat menghantarkan
seseorang selamat bahkan bahagia dunia sampai akhirat. Apabila seseorang salah dalam
memilih aqidah maka bisa jadi salah dalam penerapan sehari hari. Adapun hal
yang dapat merusak Aqidah antara lain adalah :
Pertama
Faktor Pendidikan
: Dengan Pendidikan yang lemah maka akan mempengaruhi kekuatan imam
seseorang sehingga pendidikan Aqidah
harus dilakukan sedini mungkin dalam arti bisa jadi di awali sejak dalam
kandungan, baru lahir - masa pertumbuhan bahkan sampai dewasa sehingga
diharapkan betul betul menjadi generasi yang sholeh dan sholihah dunia sampai
akhirat. Amiin
Kedua
Faktor Ekonomi : Lemahnya Ekonomi bisa membuat goyahnya Aqidah
seseorang sehingga tugas kita adalah menguatkan ekonomi kita. Faktor Ketiga adalah : Politik, politik
dapat mempengaruhi Keyakinan seseorang seperti ketika kondisi Indonesia ketika
di jajah tidak hanya fisik yang mereka rampas tetapi juga keyakinan bangsa kita
lewat program Kristenisasi. Sehingga
kesimpulannya seorang Muslim harus (1) kuat
Imannya, (2) kuat Ilmunya, (3) Kuat Hartanya, (4) Kuat Fisiknya dan (5)
Kuat Mentalnya
DENGAN AKHLAQ dan ILMU, SEMUA AKAN TERJAWAB
Banyak
kalangan telah membahas pendidikan dimana dunia pendidikan yang tidak hanya
sebagai sarana transformasi Ilmu Pengetahuan saja namun sekaligus membentuk
Pribadi terdidik untuk menjadi generasi yang kaffah (sempurna) dalam
kehidupannya bermasyarakat sesuai dengan dunianya serta untuk menyiapkan
kehidupan di akhiratnya kelak dimana hampir semua intinya adalah untuk
mendapatkan hasil yang sempurna.
Yaitu peserta
didik yang tidak hanya mudah mendapatkan pekerjaan namun juga mampu
membuka peluang kerja, anak didik yang punya moral bahkan mampu menyejukkan
hati siapa saja yang ada disekitarnya dan harapan harapan lain yang
semuanya mengarah pada kebaikan bahkan tidak hanya untuk satu masa namun dimasa
apapun diharapkan peserta didik itu nanti-kan mampu menghadapinya, apalagi
dimasa informasi dan tehnologi yang semakin canggih ini. Untuk itu tidak hanya
Ilmu Pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik namun penanaman Iman yang
kuat dalam hatinya juga sangat
dibutuhkan, tidak cukup hanya memiliki IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi)
namun juga membutuhkan IMTAQ (keimanan dan ketaqwaan). Sehingga tidak hanya
otak yang brilliant yang dibutuhkan pada generasi
sekarang namun pribadi yang berbudi
luhur atau berakhlaqul karimah juga sangat diperlukan untuk manghadapi dunianya
kelak. Dalam setiap bertindak dan bertingkah laku, tidak hanya Ilmu
Pengetahuannya saja yang dipakai sebagai dasar berprilaku maupun bersosial,
namun selalu diiringi dengan Imannya kepada Allah SWT, dimana semua yang dilakukannya
tidak lupa untuk disandarkan pada Allah minimal selalu punya rem diri untuk
tidak melakukan Amoral. Tetapi kalaupun ada dari awal, peserta didik yang
terlahir dalam kondisi tidak cerdas namun diharapkan peserta didik tersebut pada akhirnya tetap berakhlakul
karimah sebagaimana Rosulullah SAW diutus kemuka bumi ini tidak hanya untuk
mencerdaskan ummat, namun
Rosulullah juga diperintah Allah SWT untuk memperbaiki dan
menyempurnakan Akhlaq. Sebagaimana
sabda Rosulullah SAW dibawah ini :
انَّمَا بُعِثْتُ
لاِؤُتَمِّمَا مَكَاَرِمَ الاَخْلاَق
“Sesungguhnya aku diutus kemuka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq”
Logikanya yang sudah berakhlak saja harus
disempurnakan apalagi yang belum sempurna akhlaknya, maka betul-betul harus
disempurnakan. Dalam hal ini petugas utamanya adalah keluarga. Keluargalah yang
mengerti dari awal watak watuknya anak (baca-peserta didik) selain keluarga
juga punya peluang waktu yang banyak dibandingkan madrasah maupun pihak lain,
apalagi jika semua elemen dalam satu wilayah yang ada yaitu keluarga, madrasah,
masyarakat dan pemerintah pada bekerja sama dalam membentuk karakter peserta didik
untuk menjadi pribadi yang berAkhlaqul karimah maka tujuan itu akan terasa
mudah tercapai. Apalagi fenomena belakangan ini banyak peserta didik dinilai
kurang bahkan tidak santun, tidak hanya dilingkungan madrasah, dirumah bahkan
diluar. Sampai sampai banyak peserta didik yang tersangkut dalam kekerasan
massa atau tawuran, layaknya masyarakat marginal yang kurang mendapatkan
kesempatan pendidikan yang layak sehingga sering kali dalam menyelesaikan
masalah condong berperilaku anarkis, mungkin anggapan mereka bahwa dengan cara
tersebut (anarkis) maka tanpa menguras pikiran, masalahpun akan cepat
terselesaikan. Padahal dengan tindakan tersebut menunjukkan bahwa kondisi
mereka yang kurang wawasan dan tidak berakhlaq, bahkan kesalahan itu tidak
hanya ditimpakan kepada mereka namun ini semua juga mengakibatkan timbulnya
anggapan akan gagalnya dunia pendidikan dalam membentuk peserta didik yang
berakhlak karimah, bermoral dan berbudi pekerti yang baik. Padahal urusan
pendidikan tidak hanya tanggung jawab madrasah namun tanggung jawab bersama
dimana selain Madrasah, Keluarga, Masyarakat dan Pemerintah. Sehingga ketika
ada peserta didik yang lolos akhlaknya maka tidak bisa hanya memfonis gagalnya
pendidikan pada madrasah namun perlu kita perhatikan rentetan pergaulannya
(teman), lingkungannya dimanapun peserta didik tersebut ada, sebagaimana dalam
kitab At-Ta’limul Muta’allim yang menyebutkan :
عَنِ
اْلمَرْءلاَتَسْئَلْ وَابْصَرْقَرِيْنَهُ
# فَاءِنَّ اْلقَرِيْنَ بِاْ
لمُقَارَنِ يَقْتَد
Artinya :
“Jika engkau
ingin mengetahui watak seseorang, maka janganlah bertanya kepadanya, tetapi
lihatlah dengan siapa ia bergaul. Sebab di dalam pergaulan itu sering terjadi
prilaku seseorang ikut ikutan”.
Jarang sekali seseorang mau membuka watak
kepribadiannya, kalaupun ada pasti sebagian besar yang diceritakan adalah yang
dianggap sebagai kelebihannya sehingga tanpa harus bertanya, namun dengan
melihat atau mencari tahu siapa teman bergaulnya maka kita bisa membaca
bagaimana kepribadiannya sebab seorang teman akan kuat dalam mempengaruhi pola
tingkah lakunya kecuali dia punya pribadi yang sangat kuat sehingga bukannya
terpengaruh namun sebaliknya justru dia yang berpengaruh.
Berbicara
tentang akhlak, bahkan banyak telah orang sukses hidupnya karena telah mampu menerapkan budi luhurnya disetiap tingkah lakunya dalam
berinteraksi dengan semua makhluk. Ini membuktikan bahwasanya hidup dengan
Akhlak membuat hidup jadi Mudah dan Indah bahkan dengan kekuatan Iman, hidup
akan lebih terarah, teratur dan terencana, sehingga mudah meraih kesuksesan di
dunia dan di akhirat. Sebab dalam setiap saat, dengan siapapun, dimanapun
dan kapanpun selalu dengan hati yang tulus. Apalagi jika Akhlak selalu di iringi
dengan ilmu, maka hasil yang akan didapatpun pasti lain. Sebagaimana Allah SWT
telah menerangkan tentang keutamaan Ilmu. Dalam FirmanNYA yaitu :
يَرْفَعِ اللهُ الَّدِيْنَ امَنُوْامِنْكُمْ وَالَّدِيْنَ اُوتُواالْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ [ المجادله : اا ]
“Allah akan mengangkat orang orang yang beriman dan berilmu
diantara kamu dengan beberapa derajat”. (Q.S. Al Mujadalah : 11)
Salah satu bukti dari Firman Allah tersebut di
atas adalah peristiwa Nabi Sulaiman AS. Yang diperintahkan untuk memilih satu
diantara 4 hal:
Dimana pilihannya
adalah harta, tahta, wanita dan ilmu. Lalu beliau memilih ilmu, maka dengan
ilmu dapatlah nabi sulaiman harta tahta / kerajaan sekaligus wanita. Ini
menunjukkan bahwa betapa pentingnya Ilmu, sebab dengan Ilmu seseorang bisa
mendapatkan semuanya bahkan dapat menguasai dunia, dengan Ilmu seseorang-kan
dapatkan akhirat bahkan dengan Ilmu pula seseorang bisa mendapatkan dua-duanya
yaitu dunia dan akhirat. Sebagaimana Hadist dibawah ini:
مَنْ اَرَدَ الدُّنْيَا
فَعَلَيْهِ بِاالْعِلْمِ"وَمَنْ اَرَدَ الآَخِرَاةَ فَعَلَيْهِ
بِااْلعِلْمِ"وَمَنْ اَرَدَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِااْلعِلْمِ
Barang siapa menginginkan dunia maka dengan ilmu,
Barang siapa menginginkan akhirot maka dengan ilmu dan
Barang siapa menginginkan kedua duanya dunia dan akhirot maka dengan
ilmu(al-hadits)
Lebih dalam
berbicara tentang Ilmu maka tidak lepas dari bagaimana peserta didik supaya
mendapatkan Ilmu dengan baik, sebagaimana syair dari Sayidina Ali karromallahu wajhah
sebagai berikut :
اَلاَلاَتَنَالُ
اْلعِلْمَ اِلاَّبِسِتَّةٍ #
سَاُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
“Ingatlah sesungguhnya engkau tidak akan dapat
memperoleh Ilmu, kecuali dengan memenuhi syarat enam perkara yang akan aku
terangkan secara ringkas, yaitu :
ذَكَاءٍ
وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَاِرْشَادُاُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
Cerdas; 2. Rajin;
3. Sabar; 4. Mempunyai
bekal; 5. Petunjuk Guru; dan 6. Waktu
yang panjang (lama).
Bahkan dalam
Kitab At-Ta’limul Muta’allim diterangkan bahwa sesungguhnya orang yang mencari
Ilmu itu tidak akan memperoleh Ilmu dan Kemanfaatannya, kecuali dengan
memuliakan Ilmu dan ahlinya beserta memuliakan Guru bahkan disana juga
ditandaskan tidak akan sampai maksud seseorang kecuali ia mau menghormat.
Sebaliknya, seseorang akan jatuh dari kedudukannya akibat ia tidak mau
menghormati dan meremehkannya. Dilain pihak seorang peserta didik akan berhasil
juga karena adanya guru. Sesuai dengan itu Al-Ghozali berpendapat bahwasanya
para guru hendaknya memiliki sifat kasih
sayang terhadap murid-muridnya, dan memperlakukan mereka dengan lemah lembut
laksana mereka memperlakukan anaknya sendiri. Dengan perhatian dan suri
tauladan yang baik maka mereka-kan dapat jadi warga negara yang baik namun
mereka dapat membahayakan orang lain apabila diabaikan bahkan diberlakukan
dengan buruk.
Dari
uraian tersebut diatas supaya terlahir generasi yang berakhlak, bermoral,ber-etika,
dan berpengetahuan atau berwawasan luas maka proses belajar mengajar seharusnya
:
Pertama : Adanya Suri Tauladan yang baik dari
Guru dan perangkat Madrasah (bila sedang berada di madrasah) dalam hal ini,
tidak hanya dari guru bidang studi Agama saja namun harus dari semua guru baik
guru agama maupun guru umum. Sebab ilmu apapun yang diajarkan oleh seorang guru
adalah bagian dari ilmu Allah. Contohnya dengan belajar ilmu Biologi seseorang
dapat mengetahui rahasia Allah dalam menciptakan makhluk hidup, dengan belajar
Bahasa Indonesia – seseorang akan mampu membaca, menulis bahkan menyampaikan
unek-uneknya dengan baik, dengan belajar matematika seseorang dapat menghitung
dengan benar bahkan seseorang dapat menyelesaikan pelajaran faro’id (ilmu waris)
ataupun ilmu falaqiyah (ilmu cara membuat kalender/menetukan bulan) yang
kesemuanya ini dapat dipraktekkan dengan baik dan sempurna apabila selalu
diiringi dengan Akhlak atau budi pekerti, contohnya seseorang dapat
berkomunikasi dengan lancar namun apabila cara menyampaikannya tidak sopan maka
hasilnya pun tidak akan baik. Dengan kata lain kemanapun kaki ini berjalan
dan dengan siapapun lisan ini berkata maka Akhlak tetap harus dipakai. sehingga
seorang guru adalah media paling tepat untuk menanamkan pribadi luhur
kedalam jiwa peserta didiknya sehingga tidak ada kata bahwa pembentukan
karakter pada anak hanya tugas salah satu guru namun pada semua guru.
Kedua : Kurikulum, dalam hal ini madrasah selain
mengajarkan ilmu – ilmu agama, ilmu ilmu umum dan yang tidak boleh ketinggalan
adalah skill (ketrampilan diri) baik yang mengarah pada wawasan atau ekonomi.
Yaitu selain peserta didik harus menerima pelajaran tentang agama maupun ilmu
umum, siswa juga diberi peluang untuk mengembangkan bakatnya. Misalnya :
Pelatihan Jurnalistik, Pidato bahasa arab-inggris, MC, bahkan menjahit ataupun
Work shop koperasi dan lain sebagainya
Ketiga :
fasilitas atau sarana prasarana,
dengan semakin lengkapnya sarana prasarana yang dimiliki suatu lembaga
pendidikan maka sangat menunjang untuk keberhasilan peserta didik dalam
mengimplementasikan kemampuan dirinya.
Sehingga
Madrasah nantinya betul betul dapat melahirkan peserta didik yang :
1. Menguasai ilmu
agama dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran agama islam dengan tekun, ikhlas
semata-mata untuk berbakti dan mengabdi kepada Allah SWT.
2. Mampu
menghidupkan Sunnah Rosul dan menyebarkan ajaran-ajarannya secara kaafah (utuh)
3. Berakhlaq
luhur, berfikir kritis, berjiwa dinamis dan istiqomah
Berjiwa
besar, kuat mental dan fisik, tahan uji, gemar ibadah, tawadlu’, kasih sayang
terhadap sesama, mahabbah serta tawakal kepada Allah SWT.
Wawllohu a’lam bisshowab. By. Mukhlishotin,
Jumat, 10 April 2020
sedikit santai di wisata Gunung Kelud
3 Januari adalah hari yang bersejarah bagi kami yang berada dinaungan kementerian agama RI dimanapun berada. kenapa ? karena hari itu adalah hari ulang tahun kemenag RI sehingga kami selalu melakukan beberapa rankaian aktifitas yang puncaknya adalah pada hari atau tanggal 3 januari itu. 3 januari kami ASN yang berada di kab. kediri selalu mengikuti upacara yang yang di adakah oleh kemenag, sebelum upacara selesai selalu ada beberapa pengumuman prestasi yang di peroleh secara individu maupun secara lembaga selama 1 tahun sebelumnya. Alhamdulillah pada tahun ini MTsN 7 Kediri salah satu prestasi yang telah di raih adalah : mendapat piagam penghargaan Adiwiyata Nasional yang sebelumnya telah diterimakan langsung oleh menteri lingkungan hidup di jakarta. alhamdulillah juga dapat predikat madrasah sehat leat Tiem yang dikoordinir oleh istiqomah,S.si sebagai leader Tiem - telah berhasil membawa nama madrasah menjadi madrasah sehat dan menyabet prestasi no 2 level Jawa Timur. Dan Sebagai refressing kali ini selesai mengikuti upacara HAB Kemenag sebagian dari kami ASN dapat menikmati dinginnya kawasan wisata gunung kelud sebelum melaksanakan jum'atan bagi para bapak_bapak dan sholat dhuhur bagi ibu ibu. sungguh kali ini kami dapat menikmati sampai di atas kawah yang melewati terowongan peninggalan jaman belanda dulu lewat jasa ojek paguyupan yang tersedia di sana. Dan yang pasti sebagai bukti telah sampai di sana maka saat turun sungguh tidak afdhol apabila meninggalkan makanan atau buah tangan yang ada di sana, nanas madu adalah salah satu yg menjadi produk andalan di kawasan ini selain masih ada apokat, manggis, belewah dan yang pasti tidak boleh ketinggalan adalah krupuk asin rasa pedas atau bawang yang sering di sebut krupuk upil, yah krupuk upil enak gurih dan..... biasanya malah ada durian, sangking banyaknya durian di sini sehingga ada satu situs yang di sebut kampung durian.
Langganan:
Postingan (Atom)
